Unik dan Ikonik! Pohon Natal 10 Meter dari 35 Kg Rafia di Gereja Magelang Jadi Sorotan
Kehadiran pohon Natal ini langsung mencuri perhatian masyarakat. Tak hanya jemaat gereja, warga yang melintas di sekitar Alun-alun Kota Magelang pun dibuat terpukau. Apalagi saat malam hari, ketika lampu-lampu warna-warni menyala dan berkelap-kelip, menciptakan suasana Natal yang hangat, damai, dan penuh makna.
Ikon Natal Baru di Jantung Kota Magelang
Letak GPIB Beth-El Magelang yang strategis membuat pohon Natal ini semakin mudah terlihat. Gereja ini berada di kawasan pusat kota, berdampingan dengan berbagai simbol kerukunan umat beragama seperti masjid dan kelenteng. Tidak heran jika pohon Natal rafia ini kemudian menjadi ikon visual baru perayaan Natal di Magelang.
Pendeta GPIB Beth-El Magelang, Yannedelle Hehanussa-Sahetapy, mengungkapkan bahwa pemilihan konsep pohon Natal raksasa ini tidak dilakukan secara sembarangan. Salah satu pertimbangan utama adalah predikat Kota Magelang sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, bahkan menempati peringkat keempat secara nasional.
“Di sekitar alun-alun ini ada masjid, gereja, dan kelenteng. Jadi ini sangat merepresentasikan toleransi. Kebetulan menjelang hari raya, kami ingin menghadirkan sesuatu yang bisa menjadi simbol kebersamaan,” ujarnya.
Melibatkan Semua Generasi dalam Semangat Natal
Lebih dari sekadar hiasan, pohon Natal ini juga menjadi bagian dari implementasi tema internal gereja, yakni pengutusan gereja antargenerasi di era digital. Tema tersebut mendorong keterlibatan semua kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua, dalam mempersiapkan perayaan Natal.
Proses pembuatan pohon Natal dilakukan secara gotong royong selama kurang lebih tiga minggu. Setiap kelompok usia berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing, sehingga tercipta rasa memiliki dan kebersamaan yang kuat.
“Kami ingin Natal ini bukan hanya dirayakan secara simbolis, tapi juga melalui proses kebersamaan. Semua ikut ambil bagian,” tambah Yannedelle.
Warna Putih dan Makna Kekudusan
Pohon Natal rafia ini didominasi warna putih. Warna tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Yannedelle, putih melambangkan kekudusan, sebagai simbol menyambut kelahiran Yesus Kristus.
“Putih itu simbol kudus. Kami ingin menghadirkan makna Natal yang sederhana, tetapi tetap sarat pesan spiritual,” jelasnya.
Sementara itu, penggunaan tali rafia dipilih karena sifatnya yang sederhana dan terjangkau. Dengan bahan yang relatif murah, gereja ingin menunjukkan bahwa perayaan Natal tidak harus mewah, tetapi dapat dilakukan dengan kreativitas dan makna yang mendalam.
“Kenapa rafia? Karena tidak mahal. Sederhana. Walaupun rafia itu plastik, kami sudah memikirkan pengelolaannya setelah Natal,” ungkapnya.
Biaya dan Detail Teknis Pohon Natal Rafia
Untuk membangun pohon Natal setinggi 10 meter ini, gereja membutuhkan sekitar 35 kilogram tali rafia. Total biaya yang dikeluarkan mencapai kurang lebih Rp6 juta, termasuk rangka, rafia, cat, serta instalasi lampu.
Dari segi estetika, pohon Natal ini dirancang agar tetap kokoh dan aman, mengingat lokasinya berada di ruang terbuka dan menjadi pusat perhatian publik. Saat malam hari, pencahayaan lampu yang menyelimuti pohon menciptakan efek visual yang indah dan instagramable.
“Kalau malam menyala, lampunya bagus sekali,” kata Yannedelle dengan bangga.
Dipajang hingga 6 Januari 2026
Pohon Natal rafia ini direncanakan akan dipajang hingga 6 Januari 2026, bertepatan dengan berakhirnya masa Natal. Setelah itu, pohon akan dibongkar dan disimpan kembali.
Pihak gereja juga telah memikirkan aspek lingkungan. Meskipun menggunakan bahan plastik, rafia tersebut akan diatur penggunaannya kembali agar tidak menjadi limbah sekali pakai.
Gereja Tua dengan Semangat Baru
GPIB Beth-El Magelang sendiri merupakan gereja bersejarah yang berdiri sejak tahun 1817. Dengan usia yang sudah lebih dari dua abad, gereja ini terus berupaya relevan dengan perkembangan zaman, termasuk melalui pendekatan kreatif dalam merayakan hari besar keagamaan.
Kehadiran pohon Natal raksasa ini menjadi simbol bahwa gereja tua pun bisa tampil modern, inklusif, dan dekat dengan masyarakat.
“Ini semacam ikon. Dari segi estetika, orang yang datang ke Magelang bisa merasakan suasana Natal yang menyambut,” pungkas Yannedelle.
Lebih dari Sekadar Pohon Natal
Pohon Natal 10 meter dari rafia di GPIB Beth-El Magelang bukan hanya sekadar dekorasi. Ia menjadi simbol toleransi, kreativitas, kesederhanaan, dan kebersamaan. Di tengah keberagaman yang ada di Kota Magelang, pohon Natal ini hadir sebagai pengingat bahwa perayaan keagamaan dapat menjadi ruang bersama untuk saling menghargai.
Tak heran jika pohon Natal unik ini viral dan menjadi perbincangan hangat. Bagi warga Magelang maupun wisatawan, pohon Natal rafia ini layak menjadi destinasi singkat untuk menikmati suasana Natal yang berbeda dan penuh makna.









