Notification

×

Iklan

desaiNews

Iklan

desaiNews

Makrifat Lalat : Simfony Sunyi di Atas Sayap Lalat yang Terhina

Kamis, 18 Desember 2025 | Desember 18, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-20T02:28:21Z
desaiNews

Makrifat Lalat : Simfony Sunyi di Atas Sayap Lalat yang Terhina
Info & Pemesanan Desain <<< KLIK DISINI >>>

desaiNews.ID | Di panggung semesta yang mahaluas ini, kita sering kali hanya terpukau pada bintang-bintang yang berkilau atau bunga-bunga yang merekah indah.

Makrifat Lalat : Simfony Sunyi di Atas Sayap Lalat yang Terhina 


Kita memuja elang karena kegagahannya menembus awan, dan kita mengagumi kupu-kupu karena tarian warnanya yang memabukkan mata. Namun, di sudut-sudut yang gelap, di tepian meja yang luput dari sapuan kain, atau di atas sisa-sisa yang hendak kita lupakan, ada seorang guru kecil yang kerap kita usir dengan kebencian. Ia adalah lalat. Makhluk yang kehadirannya dianggap sebagai noda, suaranya dianggap sebagai kebisingan, dan hidupnya dianggap sebagai kutukan.


Namun, bagi mereka yang memandang dengan mata batin, bagi para pejalan yang mencari jejak Tuhan di setiap jengkal ciptaan, lalat bukan sekadar serangga pengganggu. Ia adalah naskah makrifat yang ditulis dengan tinta ketekunan. Ia adalah kitab terbuka yang mengisahkan tentang kepasrahan, kejujuran, dan pengabdian yang tanpa syarat. Mari kita merenung lebih dalam, menembus dinding prasangka, untuk menjemput hikmah agung dari seni kehidupan makhluk yang selama ini kita remehkan.

Bab I: Penerimaan Takdir yang Mutlak

Setiap makhluk yang lahir ke dunia ini membawa "bungkus" yang tidak pernah bisa mereka pilih. Lalat lahir dari tempat-tempat yang kita sebut kotor. Ia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih menjadi merak yang bulunya dipajang di istana, atau menjadi lebah yang madunya disanjung sebagai obat. Lalat lahir sebagai lalat. Dengan sayap yang kaku, mata majemuk yang aneh, dan bulu-bulu halus yang dianggap menjijikkan.

Di sinilah makrifat pertama terbuka: Lalat tidak pernah memprotes takdirnya. Ia tidak pernah menghabiskan waktu dengan meratapi nasib atau bermimpi menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia tidak iri pada kupu-kupu yang dicintai anak-anak, juga tidak dengki pada burung-burung yang dipuja dalam puisi. Lalat menerima wujudnya dengan sepenuh hati. Ia menjalani hidup sesuai dengan "perintah sunyi" Tuhannya.

Dalam diamnya, lalat mengajarkan kita tentang kejujuran eksistensial. Manusia, di sisi lain, sering kali tersiksa oleh imajinasinya sendiri. Kita ingin menjadi orang lain, kita ingin memiliki wajah orang lain, kita ingin menduduki jabatan orang lain. Kita sering kali gagal mencintai diri kita sendiri karena terlalu sibuk mencintai bayangan ideal yang diciptakan dunia. Lalat, dengan segala kehinaannya di mata manusia, jauh lebih "selesai" dengan dirinya sendiri dibandingkan kita yang selalu merasa kurang.

Bab II: Amanah di Balik Wilayah yang Terbuang

Kita sering menghakimi lalat karena ia hinggap di tempat-tempat yang kita jauhi. Kita menyebutnya kotor karena ia menyukai apa yang kita sebut sampah. Namun, pernahkah kita berpikir dari sudut pandang amanah? Di mana ada sisa, ia datang. Di mana ada bau, ia hadir. Bukan karena ia menyukai kotoran demi kotoran itu sendiri, melainkan karena itulah wilayah penugasan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Dunia ini membutuhkan pembersih. Dunia ini memerlukan mereka yang bersedia bergelut dengan sisa-sisa agar siklus kehidupan tetap berjalan. Apa yang bagi manusia adalah "jijik", bagi lalat adalah "ibadah". Ia melaksanakan tugasnya tanpa komplain. Ia membersihkan apa yang perlu dibersihkan, mengurai apa yang perlu diurai.

Di situ kita belajar bahwa Allah membagi peran, bukan derajat. Standar "rendah" dan "tinggi" hanyalah konstruksi pikiran manusia yang terbatas. Di hadapan Sang Pencipta, seekor lalat yang setia pada perannya sebagai pengurai sisa mungkin jauh lebih mulia daripada seorang manusia yang berpakaian sutra namun khianat pada amanah hidupnya. Kita sering terjebak pada bungkus luar, hingga lupa bahwa substansi pengabdian adalah kesetiaan pada tugas yang diberikan, sekecil apa pun itu.

Bab III: Tawakal yang Tak Bertepi

Pernahkah Anda melihat lalat membangun gudang makanan? Pernahkah Anda melihat lalat mencemaskan apa yang akan ia makan esok pagi? Tidak. Lalat adalah personifikasi dari tawakal yang paling murni. Ia tidak menimbun, ia tidak menyimpan. Hidupnya sepenuhnya bergantung pada apa yang disediakan semesta hari ini.

Jika hari ini ada rezeki yang hinggap, ia hidup. Jika tidak ada, ia mati dalam senyap. Tanpa rencana panjang yang melelahkan, tanpa kecemasan akan masa depan, dan tanpa ilusi bahwa ia memiliki kendali atas hidupnya. Ia terbang dengan sayap kepasrahan.

Bukankah ini hakikat tawakal yang sering kita dengungkan di atas mimbar, namun sulit kita terapkan dalam batin? Manusia sering kali sulit tidur karena memikirkan tabungan sepuluh tahun ke depan. Kita sering kali stres karena takut akan ketidakpastian. Kita mengaku beriman pada Tuhan yang Maha Memberi Rezeki, namun perilaku kita menunjukkan seolah-olah rezeki itu hanya bisa didapat melalui kekhawatiran yang berlebihan. Lalat mengingatkan kita bahwa ada "tangan gaib" yang senantiasa bekerja di balik layar semesta, dan tugas kita hanyalah terbang menjemput bagian kita dengan penuh keyakinan.

Bab IV: Kejujuran Tanpa Gengsi

Makrifat Lalat
Ketika lalat hinggap di tangan seorang raja, ia tidak tahu bahwa ia sedang berada di atas kekuasaan. Ketika ia hinggap di tangan seorang pengemis, ia tidak tahu bahwa ia sedang berada di atas kemiskinan. Lalat tidak mengenal kasta. Ia tidak tahu tentang harga diri, status, atau gengsi yang diciptakan manusia. Baginya, di sana hanya ada satu hal: kehidupan.

Manusia sering kali "mati" secara batiniah karena terlalu sibuk menjaga martabat semu. Kita takut melakukan sesuatu karena takut dianggap rendah. Kita ragu untuk memulai dari bawah karena malu dengan pandangan tetangga. Kita terjebak dalam jeruji gengsi yang kita bangun sendiri.

Lalat mengajarkan kita untuk kembali pada esensi. Ia tidak butuh pengakuan. Ia tidak butuh dipuji sebagai "serangga yang rajin". Ia hanya ingin hidup dan menjalankan fungsinya. Betapa indahnya jika manusia bisa melepas jubah kesombongannya dan kembali pada fitrah kejujuran, di mana ia bertindak bukan karena ingin terlihat hebat, melainkan karena memang itulah kebenaran yang harus dilakukan.

Bab V: Dengung Dzikir di Tengah Kebisingan

Dengung lalat sering kita anggap sebagai gangguan. Namun, bagi telinga yang peka secara spiritual, dengung itu adalah dzikir kecil yang tak putus-putus. Ia adalah suara kesetiaan. Ia terus berbunyi, terus setia pada frekuensinya, tanpa peduli apakah ada yang mendengarkan atau tidak. Ia tidak menuntut tepuk tangan. Ia tidak mencari penonton.

Berapa banyak dari kita yang beribadah namun diam-diam masih menuntut pengakuan? Berapa banyak amal kita yang langsung menguap karena kita segera memamerkannya di media sosial? Amal kita sering kali "berisik" karena ingin didengar dunia, namun kosong dari esensi. Sementara itu, lalat tetap berdengung dalam sunyi pengabdiannya, puas hanya dengan diketahui oleh Sang Pencipta.
Lalat tidak peduli dicintai atau dibenci. Kebencian manusia tidak mengurangi semangatnya untuk terbang, dan pujian manusia (jika pun ada) tidak akan membuatnya terbang lebih tinggi karena sombong. Ia merdeka dari penilaian makhluk. Inilah kemerdekaan batin yang sesungguhnya: ketika penilaian dunia tak lagi mampu mengguncang ketetapan hati untuk patuh pada Sang Khalik.

Bab VI: Jalan Pulang Melalui Kerendahan

Lalat selalu dekat dengan tanah, dekat dengan sisa, dekat dengan apa yang dibuang. Ia berada di posisi yang rendah. Sebaliknya, manusia selalu ingin berada "di atas". Kita ingin selalu terlihat bersih, suci, dan terhormat di mata sesama. Namun, dalam pengejaran kita menuju puncak, kita sering kali lupa membersihkan hati yang mulai berkarat oleh kesombongan.
Padahal, dalam banyak tradisi spiritual, jalan pulang menuju Tuhan justru dimulai dari pengakuan atas kehinaan diri. Kita baru bisa diisi oleh cahaya-Nya ketika kita sudah mengosongkan diri dari ego. Lalat, dengan keberadaannya yang rendah, seolah menjadi cermin yang memantulkan kesombongan kita.

Mungkin, yang membuat kita jauh dari Tuhan bukanlah tumpukan dosa besar yang nampak, melainkan satu titik rasa "lebih baik" daripada orang lain—atau bahkan merasa "lebih mulia" daripada seekor lalat. Merasa terlalu suci untuk belajar dari makhluk yang diremehkan adalah bentuk kesombongan yang paling halus dan paling berbahaya.

Pertanyaan di Balik Usiran

Maka, jika suatu hari nanti seekor lalat terbang dan hinggap di hadapanmu, janganlah hanya melihatnya sebagai musuh yang harus segera dimusnahkan. Jangan hanya melihatnya sebagai pembawa kuman. Sebelum tanganmu mengayun untuk mengusirnya, diamlah sejenak dalam keheningan.

Lihatlah sayap kecilnya yang bergetar. Lihatlah ketekunannya yang tak kenal lelah. Biarkan hatimu bertanya dengan suara yang paling dalam:
"Wahai diriku, sudahkah aku setulus lalat ini dalam menerima setiap inci takdir yang Tuhan berikan? Sudahkah aku sekuat dia dalam menjalankan peranku tanpa menuntut pujian dari dunia? Ataukah aku hanyalah raksasa yang tampak mulia di luar, namun keropos dan penuh keluh kesah di dalam?"

Sebab, siapa pun yang menolak hikmah karena pembawanya tampak hina, sesungguhnya ia sedang menutup pintu makrifat dengan tangannya sendiri. Di balik dengung lalat yang kecil, ada pesan agung tentang bagaimana seharusnya menjadi hamba yang sejati: yang hidup untuk mengabdi, yang bergerak karena ilahi, dan yang mati dalam pelukan ketulusan yang murni.

Lalat itu mungkin kecil di matamu, tapi hikmah yang dibawanya jauh lebih besar dari seluruh egomu.



HUBUNGI KAMI DI HALAMAN KONTAK  [KLIK DISINI]

=================================================

MAU DIBUATIN artikel SEPERTI INI?

LIHAT PORTOFOLIO | PESAN SEKARANG

=================================================

SEO Keywords : makrifat lalat, berguru dari lalat, sayap lalat yang hina, simfony sunyi, 

desaiNews.ID

desaiNews desaiNews desaiNews
desaiNews desaiNews
desaiNews
desaiNews
×
Berita Terbaru Update