Ketika Ingin Disukai Justru Membuatmu Hilang: Sebuah Renungan tentang Validasi dan Keaslian Diri
“Semakin kamu ingin disukai, semakin mudah kamu kehilangan diri.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat — ia seperti tamparan halus bagi siapa pun yang pernah memaksa diri untuk terlihat baik, diterima, dan dianggap cukup di mata dunia. Kita hidup di masa di mana senyum bisa direkayasa dengan filter, dan kepercayaan diri bisa diukur dari jumlah “like”. Dunia digital mengubah cara kita melihat diri: bukan lagi melalui cermin, melainkan melalui pandangan orang lain.
Di balik layar yang dingin, kita mengejar sesuatu yang hangat — penerimaan. Tapi siapa sangka, rasa ingin disukai itulah yang perlahan mengikis keaslian kita.
Ketika Validasi Jadi Candu: Bahagia yang Menipu
Sebuah riset dari University of Michigan menemukan bahwa ketika seseorang menerima “like” di media sosial, bagian otak yang aktif adalah area yang sama seperti saat mendapatkan hadiah uang. Artinya, validasi bekerja seperti narkotika emosional — memberi euforia sesaat, lalu membuatmu ingin lebih. Dan lebih lagi.
Itulah jebakan terbesar manusia modern — kita hidup bukan untuk merasa, tapi untuk dilihat.
1. Sadari: Validasi Adalah Bentuk Ketergantungan yang Terselubung
Saat seseorang memuji, ego kita melonjak tinggi. Tapi ketika tak ada yang menanggapi, hati jadi resah. Kita mulai memeriksa ponsel, menunggu tanda disukai. Ini bukan lagi tentang berbagi, tapi tentang memastikan: apakah aku diterima?
Untuk memutusnya, kamu harus berani menatap diri tanpa topeng. Setiap kali kamu ingin memposting sesuatu, tanyakan: apakah aku melakukan ini karena ingin berbagi, atau karena takut diabaikan? Di situlah kejujuran dimulai — dari keberanian untuk melihat ketakutan sendiri.
2. Bedakan: Penghargaan Tidak Sama dengan Pembenaran
Ketika seseorang menolak pendapatmu dan kamu merasa tersinggung, sering kali itu bukan tentang isi kritiknya — tapi karena egomu tersentuh. Kamu ingin mereka berkata, “Kamu benar.” Padahal, tidak semua ketidaksetujuan adalah penolakan.
Terkadang, orang yang berani tidak sepakat justru memintamu berpikir lebih dalam. Mereka bukan musuh, tapi cermin. Dan jika kamu bisa menerima itu, kamu akan menemukan kebebasan baru — kebebasan dari kebutuhan untuk selalu benar di mata dunia.
3. Berdamailah dengan Ketidakdisukaan
Tidak semua orang akan menyukaimu. Dan di situlah paradoks terbesar: saat kamu benar-benar menerima kenyataan itu, kamu akan merasa paling damai.
Banyak orang menghabiskan hidup membentuk citra sempurna agar dicintai semua pihak. Tapi hasilnya hanya satu — kelelahan yang tidak berujung. Karena sekeras apa pun kamu mencoba, akan selalu ada yang salah paham, yang iri, yang tidak suka.
Ketika kamu berani menanggung ketidakdisukaan tanpa mengganti jati dirimu, kamu sedang membangun keaslian sejati. Hidup bukan tentang menjadi sosok ideal bagi semua orang, tapi menjadi manusia yang jujur terhadap dirinya sendiri.
Disukai semua orang bukan tanda keberhasilan — itu tanda bahwa kamu belum sepenuhnya hidup sebagai dirimu sendiri.
4. Lepas dari Pertarungan yang Tak Pernah Ada
Media sosial mengubah dunia menjadi panggung yang tak pernah tutup. Semua orang tampil, semua orang bicara, semua orang ingin menang. Tapi menang atas siapa? Dalam lomba ini, tak ada garis finis. Yang ada hanya kelelahan membandingkan hidup dengan cuplikan terbaik milik orang lain.
5. Bangun Nilai, Bukan Citra
Citra adalah apa yang orang lihat. Nilai adalah siapa kamu ketika tidak ada yang melihat. Dunia hari ini terobsesi pada tampilan — yang sibuk terlihat baik, terlihat sukses, terlihat bahagia. Tapi siapa yang benar-benar menjadi bahagia?
Karena pada akhirnya, keaslian akan menemukan penontonnya sendiri.
6. Tatap Penolakan Seperti Guru, Bukan Musuh
Dengan mengganti rasa takut menjadi rasa ingin tahu, kamu berhenti hidup untuk diterima dan mulai hidup untuk memahami. Kamu tak lagi gentar ketika tidak disukai, karena kamu tahu makna diri tidak bergantung pada tepuk tangan siapa pun.
7. Nikmati Proses, Bukan Pengakuan
Ketika kamu bisa menikmati proses tanpa menunggu validasi, kamu telah menemukan kebebasan yang bahkan uang atau popularitas tak bisa beli.
Saat Dunia Ramai, Hati yang Tenang Jadi Kemewahan
Jika tulisan ini membuatmu terdiam sejenak, mungkin itu artinya kamu sedang mendengar suara yang selama ini kamu abaikan — suara dirimu sendiri.








